BIBIT JAMBU KRISTAL DIBAGIKAN SECARA GRATIS
KEPADA MASYARAKAT PEMALANG

23 September 2017, riuh pikuk masyarakat antusias menerima pembagian bibit Jambu Kristal. Lokasi Rest Area Bale Gandrung Desa Gambuhan Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang Jawa Tengah penuh dengan masyarakat sekitar.

Jumlah 3000 bibit Jambu Kristal telah dibagikan dengan harapan setelah pulang dari acara ini, bibit segera ditanam dan terus dipelihara. Bantuan bibit ini sudah diharapkan masyarakat sejak lama. Apalagi bibit Jambu Kristal ini merupakan bibit buah-buahan yang nantinya buah jambu kristal ini dapat dijual untuk tambahan pendapatan masyarakat, kata salah satu petani di Desa Gambuhan.

Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bapak Dr. Hilman Nugroho berharap bahwa setelah ditanam, sekitar 4-5 tahun lagi Pemalang bisa menjadi Kabupaten Wisata khususnya wisata buah-buahan. "Kami sediakan bibit secara gratis, dengan cara hubungi kantor BPDASHL setempat" ujar beliau.

Peluncuran Prangko Edisi Khusus

“Tanam 25 Pohon Selama Hidup”

Jakarta, 2 agustus 2017. Prangko seri lingkungan hidup tahun 2017, diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dalam acara Hari Lingkungan Hidup 2017 di Jakarta kemarin. Terobosan terbaru gagasan Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Dr. Hilman Nugroho menerbitkan prangko yang berisi ajakan untuk menanam pohon paling sedikit 25 pohon seumur hidup.

Ide gagasan menanam pohon 25 selama hidup pada awalnya muncul sekitar 2 tahun yang lalu oleh Dr. Hilman Nugroho. Menanam 25 pohon dapat dilakukan pada saat SD, SMP, SMA, kuliah dan saat menikah  masing-masing 5 pohon.

Prangko seri lingkungan hidup 2017 ini didominasi oleh warna hijau, yang menggambarkan upaya Kementerian LHK untuk menghijaukan lahan kritis di Indonesia.

Tulisan “Tanam 25 Pohon Selama Hidup” merupakan slogan yang berisi ajakan kepada seluruh masyarakat untuk menanam minimal 25 pohon selama hidup sebagai wujud terima kasih kepada alam.

Gambar tangan kiri dan kanan membentuk angka 25 menggambarkan upaya pemerintah untuk menumbuhkembangkan budaya cinta lingkungan kepada masyarakat Indonesia, sejak usia dini untuk secara sukarela menanam pohon sebanyak 25 pohon selama hidup.

Latar belakang yang beragam, menggambarkan bahwa menanam 25 pohon selama hidup, dapat memberikan banyak manfaat yaitu perbaikan kondisi DAS, perbaikan kualitas udara, perbaikan kualitas, kuantitas dan kontinuitas air serta perbaikan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia.

Pencegahan Banjir dan Tanah Longsor dengan Penanaman

Hari rabu tanggal 15 Maret 2017 dilaksanakan agenda komunikasi public kepada media massa dari Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Acara ini dilaksanakan di ruang sonokeling gedung manggala wanabakti yang dihadiri beberapa wartawan. Tema yang diangkat yang dipaparkan kepada media massa adalah Upaya Pencegahan Banjir dan Tanah Longsor dengan narasumber Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung.
Bencana lingkungan yang dibahas adalah bencana banjir dan longsor. Menurut Hilman Nugroho Dirjen PDASHL Banjir didefinisikan sebagai fenomena alam yang terjadi dikarenakan debit aliran sungai melebihi daya tampungnya. Dicontohkan bila ada gelas yang diisi dengan air melebihi daya tampung gelas tersebut, maka air akan meluber. Air meluber itulah yang disebut banjir.  Kemudian longsor adalah pergeseran masa tanah yang diakibatkan tingkat kejenuhannya melebihi kemampuan dalam mengikat air.
Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai banjir dan longsor, Dirjen PDASHL menjelaskan penyebabnya dari sudut pandang Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS adalah seluruh wilayah daratan yang mempunyai fungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan secara alam sampai ke outlet (danau atau laut) yang mempunyai batas DAS yaitu puncak-puncak gunung. “Jadi jika ditanya DAS itu sungai, bisa menyempit, itu pernyataan salah” tegas Hilman Nugroho.  “DAS itu ya seluruh wilayah daratan, sungai itu bagian dari DAS, yang ibu bapak duduki sekarang ini bagian dari DAS Ciliwung” tambah beliau.  Bentuk DAS dibagi menjadi 4 yaitu bentuk bulat seperti di Dayeuh Kolot Bandung, bentuk segitiga terbalik seperti di Padang dan Palu, bentuk advokat dan bentuk memanjang seperti contoh di Jakarta. Di Indonesia terdapat 11.000 DAS dan prioritas yang ditangani ada 108 DAS serta sangat prioritas tahun 2015-2019 ada 15 DAS.
Kejadian banjir itu disebabkan karena 2 hal yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam dapat dilihat dari bentuk DAS tersebut. Dapat dilihat dari kejadian banjir yang terjadi di daerah Deyeuh Kolot dengan bentuk DAS bulat. Faktor alam dengan bentuk das yang sudah bulat seperti mangkok walaupun hujan sebentar saja akan terjadi banjir karena air akan masuk terus ke dalam daerah tersebut. Faktor alam lain seperti curah hujan, lamanya hujan, topografi, jenis tanah dll. Faktor manusia yang bisa menyebabkan banjir adalah kesesuaian tata ruang yang tidak memperhatikan kaidah konservasi  seperti pemanfaatan lahan untuk perkebunan di daerah hulu, adanya pertambangan dan adanya perambahan.
Adanya lahan kritis yang masih luas di Indonesia dapat mempengaruhi  penyebab kejadian banjir dan longsor. Lahan kritis tersebut hubungannya ada pada tutupan lahan. Semakin sedikit tutupan lahan maka jatuhnya air hujan akan semakin banyak ke permukaan dan sedikit penyerapan ke dalam tanah.  Maka air yang tidak terserap tersebut akan menyebabkan banjir. Dirjen PDASHL Hilman Nugroho menghimbau agar semua masyarakat tidak hanya instansi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk menanam, menanam dan menanam.  Dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2013, luas lahan kritis di Indonesia mengalami penurunan. Tahun 2006 luas lahan kritis mencapai + 30 jt Ha, tahun 2011 menurun menjadi + 27 juta Ha, dan terakhir di tahun 2013 luas lahan kritis + 24 juta Ha. Tidak mungkin hanya Instansi  Kementerian LHK atau dari dana APBN saja yang harus dibebankan untuk menanam guna mengurangi lahan kritis sebanyak 24 juta Ha dalam waktu singkat. Maka dari itu Dirjen PDASHL sekaligus Ibu Menteri LHK meminta seluruh masyarakat dilibatkan untuk segera menanam di daerah lahan kritis atau di lahan kosong tersebut. Partisipasi Ditjen PDASHL dalam memfasilitasi penghijauan tersebut seperti bibit gratis yang tersedia di 50 persemaian permanen di seluruh Indonesia, adanya KBR (Kebun Bibit Rakyat), adanya kerjasama untuk penanaman dengan dikti, dinas, perusahaan swasta dan stakeholder lainnya. “Jadi jika pekerjaan ini tidak dikeroyok dengan bantuan masyarakat untuk melakukan penanaman maka 24,3 juta lahan kritis ini tidak akan selesai-selesai. Padahal kalau 24,3 juta lahan ini bisa hijau maka so pasti masyarakat akan lebih sejahtera, coba dibayangkan ada pohon ada air, ada air ada kehidupan, ada kehidupan ada kesejahteraan” tutur Hilman Nugroho.

 

KLHK Gandeng LIPI Ajak Menanam

Di Acara Hari Bhakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional 2017


Hari Rabu tanggal 29 maret 2017, cuaca cerah menyelimuti wilayah kebun raya Ecopark Cibinong  LIPI. Di lokasi tersebut KLHK bekerjasama dengan LIPI untuk kegiatan penanaman dalam rangka Acara Hari Bakti Rimbawan ke 34 dan Hari Hutan Internasional Tahun 2017.
Berbagai persiapan telah selesai. Bibit tertata di samping lubang tanam dengan ajir bambu menyilang bercat merah putih. Podium sambutan berdiri kokoh dengan hiasan kain merah putih telah menunggu pembukaan yang diawali dengan apel pagi.
Pukul 08.00 WIB tepat, Dirjen PDASHL Bapak Hilman Nugroho mewakili Ibu Menteri KLHK bersama Kepala LIPI menaiki podium bersiap memimpin apel pagi. Di depan podium telah bersiap sekitar + 500 peserta terdiri dari pegawai KLHK, LIPI, Mitra Kerja Luar Negeri KLHK, Duta Besar Negara Sahabat dan para Undangan.  
Peringatan Hari Bhakti Rimbawan Ke-34 yang jatuh pada tanggal 16 Maret 2017 telah dilaksanakan kegiatan penanaman pohon di tiap-tiap provinsi. Dengan pelaksanaan peringatan ini, KLHK terus mendorong upaya rehabilitasi dengan mengeluarkan regulasi. Pada tahun 2015-2019 menargetkan rahabilitasi lahan kritis 5,5 juta ha, pemulihan 15 DAS prioritas dan 15 danau prioritas.
Peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke-34 ini disinergikan pula dengan Peringatan Hari Hutan Internasional Tahun 2017 dengan Tema “Hutan dan Energi”. Pemilihan tema ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran bahwa kelestarian hutan menjadi prioritas sebagai tonggak utama dari kedaulatan.
“Pemerintah pusat tentu tidak mungkin berbuat sendiri, harus ada dukungan dari Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan masyarakat luas” tutur Hilman Nugroho.  Keberhasilan program penanaman dan pemeliharaan pohon juga ditentukan oleh 6T, yaitu : Tepat perencanaan, Tepat pemilihan jenis, Tepat pembibitan, Tepat waktu penanaman, Tepat pemeliharaan dan Tepat pemanenan.
“Semoga pohon yang kita tanam dapat menambah koleksi pohon di Ecopark, Cibinong Scinece Center, Botanical Garden, LIPI, mengurangi polusi dan dapat memperbaiki kualitas lingkungan” tutup sambutan Hilman Nugroho.

Prestasi dan Penghargaan untuk Ditjen PDASHL



Tanggal 27 November 2016 puncak acara Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) telah diselenggarakan. Penghargaan dari Guinness World Records (GWR) telah diserahkan kepada  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Koperasi Produsen Anugrah Bumi Hijau (KOPRABUH) dalam pemecahan rekor dunia atas penanaman pohon serentak. Penanaman pohon serentak ini melibatkan 6.500 petani dengan menanam  237.000 pohon terdiri dari jenis jati dan kaliandra.

Atas partisipasinya dalam pemecahan rekor dunia tersebut, pada tanggal 12 Januari 2017 dilaksanakan penyerahan penghargaan sertifikat dari GWR kepada Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL). Ucapan selamat disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Dr. Siti Nurbaya kepada Dirjen PDASHL Dr. Hilman Nugroho. Senyum gembira dan bangga terpancar dari wajah Dirjen PDASHL berserta jajarannya.”Jangan terlalu larut atas penghargaan ini, jadikan moment ini sebagai  evaluasi dan pendorong untuk mengukir prestasi yang lebih baik lagi” demikian arahan Dirjen PDASHL dalam sambutannya.

Selain mewujudkan kepedulian pemerintah terhadap lingkungan, kegiatan penanaman ini merupakan suatu bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat. Wujud kepedulian terhadap masyarakat ini diangkat dalam tema penanaman serentak yg diselenggarakan bersamaan dengan acara Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) tahun 2016 yaitu “Pohon dan Hutan Rakyat, untuk Kehidupan, Kesejahteraan dan Devisa Negara”. Tema ini relevan dengan kondisi Indonesia yang tengah mendorong peningkatan nilai ekonomi (green economy) dalam pengelolaan hutan. Kegiatan rehabilitasi lahan melalui hutan rakyat yang selama ini terus dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah memberikan kontribusi  nyata dalam perbaikan lingkungan dan pertumbuhan industri pengolahan kayu.

Tidak hanya menanam, pengawasan dan pemeliharaan pohon akan dilakukan sampai pohon benar-benar tumbuh. “Lakukan evaluasi dan pastikan penanaman pohon harus benar-benar tumbuh, tidak hanya sekedar seremonial” tutur Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sesuai pesan dari Presiden RI bahwa kegiatan penanaman pohon yang melibatkan masyarakat dan koperasi dapat diimplementasikan di daerah lain sehingga masyarakat dapat merasakan langsung dampak dari program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

 

 

 

PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA DAN BULAN MENANAM NASIONAL TAHUN 2016

Puncak peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) Tahun 2016 Tingkat Nasional dilaksanakan di Desa Tasikhajo Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban Jawa Timur pada tanggal 28 November 2016. Acara ini dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dan dihadiri Ibu Negara Iriana Widodo, para Menteri Kabinet Kerja, Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, TNI, Polri, Duta Besar Negara Sahabat, United Nations for Environment Programme (UNEP), Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Jawa Timur, pelajar/mahasiswa dan masyarakat sekitar lokasi.

Acara HMPI dan BMN Tahun 2016 ini berbeda dengan peringatan tahun sebelumnya, peringatan kali ini disertai dengan pemecahan rekor dunia (Guinness World Records) penanaman pohon dalam waktu 60menit. Pada peringatan ini, berhasil ditanam sejumlah 238.000 pohon dalam waktu 60 menit secara serentak pada satu tempat, sehingga berhasil memecahkan rekor menanam 223.000 pohon  dalam waktu 60 menit yang sebelumnya dipegang oleh Filipina.

Tema yang diangkat pada HMPI dan BMN 2016 adalah “Pohon dan Hutan Rakyat, untuk Kehidupan, Kesejahteraan dan Devisa Negara”. Tema ini relevan dengan kondisi Indonesia yang tengah mendorong peningkatan nilai ekonomi (green economy) dalam pengelolaan hutan. Kegiatan rehabilitasi lahan melalui hutan rakyat yang selama ini terus dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah memberikan kontribusi  nyata dalam perbaikan lingkungan dan pertumbuhan industri pengolahan kayu.  Oleh karenanya, Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung akan terus mendorong pengembangan hutan rakyat melalui kegiatan pembuatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan bantuan 50 juta bibit gratis per tahun dari persemaian permanen yang dikelola oleh Balai PDASHL di Seluruh Indonesia.

Kegiatan HMPI dan BMN tahun 2016 ini terselenggara atas kerjasama yang terjalin antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan sejumlah pihak seperti Pemerintah Daerah, Perhutani, serta Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (KOPRABUH). Penanaman pohon serentak melibatkan 5.500 masyarakat tani, pelajar, mahasiswa, pramuka beserta tamu undangan dan masyarakat setempat. Tim penilai Guinness World Records melakukan penganugerahan dan pencatatan Rekor Dunia kepada KOPRABUH sebagai inisiator. Ajang pemecahan rekor dunia penanaman serentak merupakan rangkaian Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) 2016.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa saat kita menanam pohon, berarti kita menanam doa dan harapan untuk keberlanjutan generasi yang akan datang. Selain memperbaiki lingkungan, menanam juga harus memberikan manfaat langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Perlu dikembangkan sebuah model yang mampu mengkorporasikan petani, nelayan dan koperasi. Dengan cara seperti itulah dalam skala besar diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yg lebih jelas. Pergerakan ekonomi kita pun akan semakin baik. “Program ini akan saya ikuti terus, kalau baik akan kita kembangkan di provinsi dan kabupaten kota lainnya,” tegas Jokowi.

HMPI 2016 juga erat kaitannya dengan andil Indonesia dalam mengendalikan perubahan iklim. Langkah mitigasi dengan penanaman pohon merupakan salah satu upaya mengurangi emisi karbon. Hal ini sejalan dengan tujuan utama Paris Agreement untuk menahan laju kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 20C atau sedapatnya menekan hingga 1,50C. “Kegiatan ini juga menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia berperan signifikan dalam leading way penanganan perubahan iklim  pada Konferensi Perubahan Iklim Dunia, COP 22 Maroko, 7-18 November yang lalu terkait aksi nyata pengendalian perubahan iklim.” ujar Menteri LHK Siti Nurbaya saat menyampaikan laporan.

Total pohon yang ditanam pada HMPI 2016 mencapai 238.000 batang terdiri dari 200.000 batang kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan 38.000 batang jati (Tectona Grandis) pada areal seluas 23 hektar. Kaliandra merupakan jenis pohon berumur pendek yang dapat dipanen dalam 2 tahun. Kayu dari tanaman kaliandra ini akan ditampung untuk memenuhi kebutuhan bahan baku energi, selain itu bunga  kaliandra merupakan salah satu makanan bagi lebah madu. Sementara, tanaman jati memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu memberikan keuntungan dalam jangka panjang. Kedua jenis pohon ini ditanam berdampingan. Oleh karena itu, masyarakat dapat mengambil manfaat ekonomi jangka pendek melalui kaliandra dan jangka panjang melalui jati.

Pada HMPI dan BMN 2016 kali ini Menteri LHK Siti Nurbaya dengan didampingi Ketua KOPRABUH menyerahkan penghargaan dan pemberian sertifikat adopsi pohon. Pada kesempatan ini juga Presiden menyerahkan penghargaan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota pemenang Lomba Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tahun 2015. Untuk tingkat provinsi: Jawa Timur, Aceh dan Sulawesi Utara; tingkat Kabupaten: Cilacap, Kuningan, dan Lampung Timur; tingkat kota: Cimahi, Metro Lampung, dan Balikpapan.

Pemerintah telah menuangkan program penanaman dalam RPJMN tahun 2015-2019 pada lahan kritis seluas + 5,5 juta hektar dengan alokasi 1,25 juta ha/tahun. Untuk mempercepat tercapainya target rehabilitasi ini, Kementerian LHK bekerjasama dengan sejumlah pihak, diantaranya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, setiap siswa setidaknya menanam lima pohon saat SD, lima pohon saat SMP, lima pohon saat SMA dan lima pohon untuk mahasiswa perguruan tinggi. Disamping itu, berdasarkan kesepahaman dengan Kementerian Agama telah diatur agar setiap pasangan mempelai baru harus menanam lima batang pohon. Sehingga setiap orang menanam pohon setidaknya 25 batang pohon selama hidupnya.

Sudah saatnya semangat menanam pohon tertanam dalam diri kita. Menanam pohon merupakan upaya menyelamatkan bumi, menjaga keanekaragaman hayati, menurunkan iklilm mikro, menjaga erosi dan tanah longsor, serta memberikan oksigen bagi kehidupan

 

 

Galeri Video

Galery Foto

Sky Bet by bettingy.com

Berita UPT

article thumbnail Wawancara Dirjen PDASHL
Friday, 07 April 2017
article thumbnail HBR ke 34 dan HHI tahum 2017
Friday, 07 April 2017

Kalendar

October 2017
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

LOGIN